JAKARTA – Amerika Serikat telah melancarkan serangan di dalam wilayah Venezuela, kata seorang pejabat AS, setelah ledakan mengguncang ibu kota Caracas menyusul berbulan-bulan ancaman dari Presiden Donald Trump terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Pemerintah Venezuela, seperti dikutip Reuters, Sabtu (3/1), mengatakan serangan juga terjadi di negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira. Menyusul serangan tersebut, Presiden Maduro mengumumkan keadaan darurat nasional dan memerintahkan mobilisasi pasukan pertahanan.
Ledakan dan kepulan asap hitam terlihat di berbagai bagian Caracas sejak sekitar pukul 02.00 dini hari (06.00 GMT) selama kurang lebih 90 menit, menurut saksi Reuters dan gambar yang beredar di media sosial.
Di sejumlah wilayah, warga merekam asap tebal dan kilatan cahaya oranye di langit malam. “Sayangku, oh tidak, lihat itu,” ujar seorang perempuan dalam salah satu video yang beredar.
Pemadaman listrik dilaporkan terjadi di wilayah selatan kota, dekat sebuah pangkalan militer besar.
Pemerintah Venezuela dalam pernyataannya menuduh tujuan serangan tersebut adalah untuk menguasai minyak dan mineral negara itu, serta menegaskan bahwa Amerika Serikat “tidak akan berhasil” mengambil sumber daya Venezuela. Televisi pemerintah Venezuela, VTV (Venezolana de Televisión), menayangkan rekaman asap dan aktivitas militer di ibu kota.
Sementara itu, seperti dikutip Prensa Latina News—media yang kerap menyiarkan pernyataan resmi pemerintah Venezuela—Caracas mengecam apa yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat terhadap fasilitas sipil dan militer di Miranda, Aragua, dan La Guaira.
“Tindakan ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya pasal 1 dan 2 yang menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan, kesetaraan hukum antarnegara, serta larangan penggunaan kekuatan,” demikian pernyataan tersebut. Pemerintah Venezuela juga menyerukan mobilisasi nasional untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai serangan imperialis.
Presiden Nicolás Maduro, seperti dikutip media Kolombia El Heraldo, memerintahkan penerbitan dekret yang menyatakan keadaan conmoción exterior (gangguan eksternal) guna melindungi wilayah nasional dan mengaktifkan respons pertahanan negara.
Amerika Serikat sendiri telah melakukan pengerahan militer besar di kawasan tersebut, termasuk menempatkan sebuah kapal induk, kapal perang, dan jet tempur canggih di wilayah Karibia.
Trump berulang kali menyatakan akan melakukan operasi darat di Venezuela, negara produsen minyak Amerika Selatan yang telah dipimpin Maduro sejak 2013. Amerika Serikat, oposisi Venezuela, dan sejumlah negara lain menuduh Maduro memanipulasi pemilu tahun lalu untuk mempertahankan kekuasaan.
Trump belum merinci secara terbuka tujuan militernya, namun secara tertutup disebut telah menekan Maduro agar meninggalkan jabatannya, seperti dilaporkan Reuters. Pada awal pekan ini, Trump mengatakan bahwa akan menjadi langkah yang “cerdas” bagi Maduro untuk mundur.
Pentagon merujuk pertanyaan terkait serangan tersebut ke Gedung Putih, yang menolak memberikan komentar.
Selain itu, Trump sebelumnya mengupayakan blokade terhadap minyak Venezuela, memperluas sanksi terhadap pemerintahan Maduro, serta melancarkan lebih dari dua lusin serangan terhadap kapal-kapal yang menurut Washington terlibat dalam perdagangan narkoba di Samudra Pasifik dan Laut Karibia.
Pekan lalu, Trump mengatakan Amerika Serikat telah menyerang sebuah wilayah di Venezuela yang disebut sebagai lokasi pemuatan narkoba, menandai pertama kalinya Washington diketahui melakukan operasi darat di negara itu sejak kampanye tekanan dimulai. Ia tidak menjelaskan apakah operasi tersebut melibatkan CIA, meskipun sejumlah media melaporkan keterlibatan badan intelijen tersebut.
Trump menuduh Venezuela membanjiri Amerika Serikat dengan narkoba. Namun, pemerintahan Maduro secara konsisten membantah tuduhan keterlibatan dalam perdagangan narkoba. Sejumlah negara lain mengecam serangan AS tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan di luar proses hukum. (YS)